SEJARAH KOPI DI INDONESIA

Dalam sejarah, kopi di Indonesia sudah melewati perjalanan panjang dari awal masuk hingga tersebar di penjuru nusantara. Beberapa literatur tua dan artikel-artikel yang telah lebih dulu mengulas tentang sejarah masuknya kopi ke Bumi Pertiwi menyebutkan bahwa pada tahun 1696 Pemerintah Belanda membawa kopi dari Malabar, sebuah kota di India, ke Indonesia melalui Pulau Jawa.

Alur tersebut tertulis di salah satu arsip dari kongsi dagang/persekutuan dagang dari Pemerintah Hindia Timur Belanda, yang lebih dikenal dengan nama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Di tahun 1707, Gubernur Van Hoorn mendistribusikan bibit kopi ke Batavia, Cirebon, kawasan Priangan serta wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Tanaman baru ini akhirnya berhasil dibudidayakan di Jawa sejak 1714-1715. Sekitar 9 tahun kemudian, produksi kopi di Indonesia sudah begitu melimpah dan mampu mendominasi pasar dunia. Bahkan pada saat itu jumlah ekspor kopi dari Jawa ke Eropa telah melebihi jumlah ekspor kopi dari Mocha (Yaman) ke Eropa.

Tak hanya itu, jika kita menggunakan literatur sebagai salah satu sumber untuk menyusuri alur sejarah kopi di Indonesia, kita pun dapat menemukan referensi tentang perjalanan kopi di dalam “Serat Centhini; Tembangraras-Amongrogo”. Dari karya sastra kuno fenomenal ini, kita akan menemukan implikasi yang menunjukkan masuknya kopi ke Indonesia melalui Jatinegara, lalu tersebar ke Tanah Priangan (Jawa Barat), hingga akhirnya penanaman kopi dapat ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia mulai dari Sumatera, seluruh pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Flores hingga Papua.

Jejak perkembangan tanaman kopi di tanah air terus berlanjut hingga bertahun-tahun setelahnya. Eduard Doues Dekker turut mengulas mengenai tekanan yang dialami oleh petani kopi dalam tulisannya, “Max Havelaar and the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company”. Karya Doues Dekker ini ikut berperan dalam membantu mengubah opini publik tentang cultivate system.

Lalu di tahun 1920-an, perusahaan-perusahaan kecil-menengah yang ada di Indonesia mulai menanam kopi sebagai komoditas utama dan perkebunan-perkebunan kopi eks-pemerintah kolonial Belanda yang sebagian besar berada di Pulau Jawa dinasionalisasi. Secara perlahan dan teratur, Indonesia bertransformasi menjadi sentra produksi kopi terbesar di dunia. Bahkan saat ini, salah satu kota yang berada di bagian utara dari Pulau Sumatera, tepatnya Dataran Tinggi Gayo yang berada di Aceh meneguhkan posisinya sebagai sentra produksi kopi arabika dengan areal lahan paling luas se-Asia.

Rentetan kronologis sejarah tersebut jika kita telusuri sedikit demi sedikit hingga akhir abad 20 (1900-an) merupakan satu dasar kuat yang meletakkan Indonesia di posisi saat ini di dunia internasional lewat produksi komoditas kopi. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia, dan dikenal juga sebagai negara yang menjadi referensi produksi kopi berkualitas baik.

 

Sejarah kopi, mulai dari asal-usul tanaman hingga perdagangannya.1 2 3

Berbagai literatur mencatat tanaman kopi berasal dari Abyssinia,4 nama daerah lawas di Afrika yang saat ini mencakup wilayah negara Etiopia dan Eritrea. Namun tidak banyak diketahui bagaimana orang-orang Abyssinia memanfaatkan tanaman kopi. Kopi sebagai minuman pertama kali dipopulerkan oleh orang-orang Arab. Biji kopi dari Abyssinia dibawa oleh para pedagang Arab ke Yaman dan mulai menjadi komoditas komersial.

Di masa awal, bangsa Arab memonopoli perdagangan biji kopi. Mereka mengendalikan perdagangan lewat pelabuhan Mocha, sebuah kota yang terletak di Yaman. Dari pelabuhan Mocha biji kopi diperdagangkan hingga ke Eropa. Saat itu Mocha menjadi satu-satunya gerbang lalu-lintas perdagangan biji kopi, sampai-sampai orang Eropa menyebut kopi sebagai Mocha.

 

1.       Cramer, J.S. 1957. A Review of Literature of Coffee Research in Indonesia. SIC Editorial, Inter-American Institute of Agriculture Science, Turrialba, Costa Rica. 

2.       Gabriella Teggia and Mark Hanusz. 2003. A Cup of Java. Equinox Publishing, Jakarta – Singapore. 

3.       S Oestreich-Janzen. 2013. Chemistry of Coffee on Comprehensive Natural Products II: Chemistry and Biology, p 1085-1113. Elsevier. 

4.       William H. Ukers. 1922. All about coffee. The Tea and Coffee Trade Journal Company. New York. 

5.       The Origin of Coffee: Kaldi and the Dancing Goats. Coffee Crossroads. 

6.       Coffee legends. Turkish Style Coffee. 

7.       Glossary Of Terms Used. International Coffee Organization (ICO). 

8.       Areal dan Produksi. Gabungan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) 

 

 

Sebelum kita menelusuri sejarah kopi di Indonesia, ada baiknya kita mundur lagi ke belakang perihal bagaimana asal mulanya kopi ditemukan oleh manusia. Jauh 3000 tahun yang lalu, seorang pengembala kambing di dataran Afrika, negeri Ethiopia, melihat bagaimana kambing - kambingnya memakan beberapa biji buah menyerupai berry di pepohonan dan melihat mereka tetap aktif serta terjaga berkat buah tersebut.

Berawal dari situlah, sang pengembala mencoba untuk mengolah biji kopi tersebut dan memakannya dan akhirnya mendapatkan manfaat yang sama seperti yang dirasakan oleh kambing - kambingnya tersebut. Itulah awalnya kopi dikenal sebagai makanan yang bermanfaat untuk menambah energi dan mengusir rasa kantuk. Hingga 500 tahun kemudian, alat penghancur dan pengolah biji kopi ditemukan serta menjadi awal mula kopi dinikmati sebagai minuman hingga saat ini.

ADVERTISEMENT

Secara bahasa, kopi atau dalam bahasa inggris disebut coffee, berasal dari bahasa Arab “qahwa” yang mana lebih populer disamakan dengan terjemahannya dalam bahasa Turki “kahveh”. Kata “qahwa” atau “kahveh” tersebut merujuk pada minuman yang terbuat dari biji yang diseduh dengan air panas. Selain itu, istilah “qahwa” juga berarti kuat, karena memang kopi dikenal sebagai minuman untuk meningkatkan energi dan stamina.

Lama berkembang di beberapa negara Afrika, Arab hingga Eropa dan Amerika, kopi kemudian merambah ke negara - negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kopi mulai dibawa ke Indonesia pada abad ke 17 oleh Belanda yang pada saat itu tengah menjajah Indonesia. Wajar, karena di negaranya, kopi sangat sulit dikembangkan karena faktor cuaca yang kurang mendukung.

ADVERTISEMENT

Bibit kopi pertama di Indonesia dikirim oleh Gubernur Belanda di Malabar, India, yakni berjenis Arabika yang berasal dari Yaman. Bibit kopi itu dikirim kepada Gubernur Belanda di Batavia (sekarang Jakarta) pada 1696. Namun sayang, bibit itu gagal tumbuh akibat banjir di Batavia.

Barulah di tahun 1711, kopi berhasil ditanam dan diekspor dari Jawa ke Eropa melalui perusahaan dagang Belanda, VOC (Verininging Oogst Indies Company). Selama 10 tahun, budidaya kopi di Batavia terus berkembang pesat dan berhasil memberikan keuntungan yang sangat besar bagi Belanda.

Setelah sukses di Batavia, Belanda kemudian memperluas produksi kopinya di beberapa daerah di Indonesia, seperti di daerah Prenger, Jawa Barat, Sumatera Utara, Aceh, Bali, Sulawesi, hingga Papua. Hampir semua kopi Indonesia ditanam di daerah dataran tinggi dengan tingkat kesuburan tanah dan cuaca yang baik. Itulah kenapa, hasil kopi di Indonesia berhasil menciptakan berbagai jenis Kopi Nusantara berkualitas terbaik dan menjadi favorit di dunia.

ADVERTISEMENT

Pascakemerdekaan di tahun 1945, bekas - bekas perkebunan kopi milik Belanda itupun kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah. Sehingga, Indonesia secara berdaulat memiliki kendali penuh untuk menghasilkan dan mengekspor kopi di beberapa negara di dunia. Termasuk Coffindo, yang saat ini memiliki perkebunan kopi milik swasta terluas di Indonesia, yakni sekitar 3.412 hektar.

Adapun beberapa jenis Kopi Indonesia yang kini dikenal sebagai Indonesia Specialty Coffee (Kopi Khas Nusantara) di antaranya adalah Kopi Aceh Gayo, Kopi Sumatra Mandheling, Kopi Lintong, Kopi Kalosi Toraja, Kopi Lampung, Kopi Kintamani Bali, Kopi Jawa Prenger, dan Kopi Papua. Selain itu, Indonesia juga memiliki Kopi Luwak yang dikenal sebagai kopi termahal di dunia.

 

 

 

Kopi di Indonesia

Loncat ke navigasiLoncat ke pencarian

Kopi pada saat digoreng di Bandung, Indonesia

Kopi Indonesia, yaitu kopi yang dibudidayakan dan diekspor dari Indonesia, saat ini menempati peringkat keempat terbesar di dunia dari segi hasil produksi sebanyak 648.000 ton, setelah BrazilVietnam dan Kolombia.[1]

Biji kopi yang tumbuh di Indonesia, pada dasarnya hanya terdiri atas tiga macam, yaitu biji kopi arabika, biji kopi robusta, dan biji kopi liberika[2]Kopi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat di Indonesia. Indonesia diberkati dengan letak geografisnya yang sangat cocok difungsikan sebagai lahan perkebunan kopi. Letak Indonesia sangat ideal bagi iklim mikro untuk pertumbuhan dan produksi kopi.

Daftar isi

·         1Sejarah

o    1.1Abad ke-18

o    1.2Abad ke-19

·         2Status Industri

·         3Jenis-jenis kopi di Indonesia

o    3.1Kopi Gayo

o    3.2Kopi Luwak

o    3.3Kopi Jawa

·         4Lihat pula

·         5Referensi

o    5.1Catatan kaki

o    5.2Daftar pustaka

·         6Pranala luar

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Abad ke-18[sunting | sunting sumber]

Tanaman kopi Arabika yang tidak terawat dengan baik pada jaman pendudukan Belanda

Benih kopi arabika untuk pertama kalinya ditanam di pulau Jawa, tepatnya di daerah Kedawung, sebuah perkebunan berlokasi dekat dengan Batavia (kelak menjadi Jakarta)oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1696[3] [4], dibawa langsung oleh pimpinan kapal dagang Belanda, Adrian van Ommen dari MalabarIndia. Usaha ini mengalami kegagalan, karena bencana gempa bumi dan banjir, yang terjadi pada masa itu.[5] Pemerintahan Belanda melakukan usaha penanaman kedua dengan mendatangkan setek pohon kopi dari Malabar dan mengalami kesuksesan, dan kopi yang dihasilkan berkualitas sangat baik sehingga dijadikan bibit bagi semua perkebunan yang dikembangkan di Indonesia. Pemerintah Belanda akhirnya meluaskan areal budi dayanya ke SumatraSulawesiBaliTimor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.[4]

Pada tahun 1706, saat kopi tumbuh dengan lambak di Jawa, oleh pemerintah Belanda, benih kopi yang tumbuh di bantaran Ciliwung, dikirimkan ke kebun botani di Amsterdam untuk dilakukan penelitian, dimana hasilnya, kopi tersebut berkualitas bagus.[3]

Lima belas tahun kemudian, atau kurang lebih pada tahun 1711Bupati CianjurRaden Aria Wira Tanu III, mengapalkan sekitar 4 kuintal kopi ke Amsterdam, dan ekspor kopi perdana tersebut memecahkan rekor harga lelang di sana. Pada tahun 1714, Raja Louis XIV dari Prancis, meminta benih Coffea arabica var. Arabica atau disebut sebagai Coffea arabica L. var. typica (untuk selanjutnya disebut sebagai tipika) dari Wali Kota Amsterdam Nicolaes Witsen. Hal ini dikarenakan raja Prancis tersebut mendapatkan fakta bahwa kopi asal pulau Jawa mendapatkan harga tertinggi dalam lelang di Amsterdam, Belanda, sehingga dia menginginkan varietas kopi itu dapat menjadi bagian dari kebun raya Jardin des Plantes di kota Paris, Prancis. [3]Benih kopi Jawa yang ada di kebun raya Jardin des Plantes dibawa oleh perwira angkatan laut Prancis ke Martinique, salah satu koloni Prancis di Karibia.

Pada tahun 1726, tidak kurang dari 2.145 ton kopi yang berasal dari pulau Jawa, membanjiri benua Eropa, mengalahkan kopi mocha dari Yaman yang sebelumnya menjadi penguasa pasar. Dan karena itu pula, kopi yang berasal dari pulau Jawa mulai dikenal dengan nama Java coffee [3]

Benih yang diberikan oleh Nicolaes Witsen, aslinya tumbuh di bantaran Ciliwung, seperti Kampung Melayu dan Jatinegara atau dahulu dikenal dengan nama Meester Cornelis, yang merupakan area awal perkebunan kopi di Jawa dan bibitnya dibawa orang Belanda dari Sri Lanka.

Selain itu, di awal tahun 1720-an, Belanda juga mengirimkan benih kopi jawa ke Suriname, karena tergiur dengan harganya yang tinggi, untuk membuka perkebunan di sana. Dari dua tempat tersebut, benih kopi jawa menyebar ke Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Jejaknya terlihat di Amerika Latin, yaitu di Ethiopia. Di sana ada varietas tipika yang sekarang sudah memiliki merek Blue Mountain yang ditanam di Jamaika dan Geisha atau Gesha, dimana nama itu mengacu pada nama dusun penghasil kopi di Ethiopia yang tumbuh di Panama[6]

Abad ke-19[sunting | sunting sumber]

Biji kopi yang telah digoreng

Pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel sekitar tahun (1830 — 1870) di masa penjajahan pemerintah Belanda di nusantara, mereka membuka sebuah perkebunan komersial pada koloninya di Hindia Belanda, khususnya di pulau Jawa, pulau Sumatra dan sebagian Indonesia Timur. Jenis kopi yang dibudidayakan adalah arabika yang didatangkan langsung dari Yaman. Pada awalnya pemerintah Belanda menanam kopi di daerah sekitar Batavia (Jakarta), SukabumiBogorMandailing dan SidikalangKopi juga ditanam di Jawa TimurJawa TengahJawa Barat, Sumatra, SulawesiTimor dan Flores.

Pada tahun 1878, di hampir semua area perkebunan kopi Indonesia, terutama yang terletak di dataran rendah, rusak terkena hama penyakit karat daun (Hemileia vastatrix - HV), yang pada masa itu kopinya berjenis arabika. Penyakit ini berupa jamur yang memakan daun layaknya karat yang menggerus besi, sehingga para petani kemudian menyebutnya sebagai penyakit karat daun.[6] Pada sekitar tahun 1880-an tersebut, Jawa kehilangan potensi untuk mengirimkan kopi ke luar negeri hingga 120.000 ton dan mengakibatkan pasar kopi dunia menjadi panik.[6]

Pemerintah Belanda menanggulanginya dengan mendatangkan spesies kopi Liberika (Coffea Liberica) yang diharapkan lebih tahan terhadap hama ini. Namun upaya ini juga mengalami kegagalan, karena mereka juga terkena hama yang sama.[4]

Baru pada tahun 1907, pemerintahan Belanda mendatangkan spesies lainnya, yaitu kopi robusta (Coffea canephora). Dan usaha mereka kali ini berhasil dan hampir semua perkebunan yang terletak di dataran rendah tidak terkena lagi hama penyakit karat daun.[4]

Di pasar dunia, kopi ‘Blue Mountain’ yang berasal dari Gesha, yang sesungguhnya keturunan dari kopi jawa, sempat menjadi primadona. Satu kilogramnya bisa mencapai harga di atas USD1.000 dalam kurs yang berlaku saat ini.[6] Bahkan salah satu kafe di Los AngelesAmerika Serikat, sempat menjual secangkir Gesha hingga USD55. Geisha ini sendiri merupakan persilangan antara kopi tipika dan varietas lainnya. Biji ini sering kali juga menjadi andalan para peracik dalam ajang kompetisi para peracik kopi internasional.

Pada permulaan abad ke-20, perkebunan kopi di nusantara mulai terserang hama, yang hampir memusnahkan seluruh tanaman kopi. Akhirnya pemerintah penjajahan Belanda sempat memutuskan untuk mencoba menggantinya dengan jenis kopi yang lebih kuat terhadap serangan penyakit yaitu kopi Liberika dan Ekselsa. Menariknya, di daerah Timor dan Flores yang pada saat itu berada di bawah pemerintahan bangsa Portugis tidak terserang hama meskipun jenis kopi yang dibudidayakan di sana juga kopi arabica.

Pemerintah Belanda kemudian menanam kopi Liberika untuk menanggulangi hama tersebut. Varietas ini tidak begitu lama populer dan juga terserang hama. Kopi Liberika masih dapat ditemui di pulau Jawa, walau jarang ditanam sebagai bahan produksi komersial. Biji kopi liberika sedikit lebih besar ukurannya daripada biji kopi arabika dan kopi robusta.

Sebenarnya, perkebunan kopi ini tidak terserang hama, namun ada revolusi perkebunan dan buruh perkebunan kopi menebang seluruh perkebunan kopi di Jawa pada khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya.

Status Industri[sunting | sunting sumber]

Pengolahan kopi di Sumatra, Indonesia.

Kopi dari Indonesia diekspor ke berbagai negara di dunia, antara lain:

·         Amerika Serikat, sebanyak 67,3 ton

·         Jerman 42,6 ton

·         Malaysia 39 ton

·         Italia 35,8 ton

·         Jepang 35,4 ton

·         Rusia 24,2 ton

·         Mesir 21,1 ton

·         Inggris 18,4 ton

·         Belgia 12,2 ton

·         Kanada 4,3 ton dan

·         Negara lainnya 112 ton[1]

Di Indonesia, kopi robusta merupakan kopi yang terbanyak diproduksi, dan Lampung merupakan gudang kopi utama di Indonesia.[7] Robusta menggantikan kopi liberika. Walaupun ini bukan kopi yang khas bagi Indonesia, kopi ini menjadi komoditas ekspor yang penting di Indonesia.

Bencana alam, Perang Dunia II, dan perjuangan kemerdekaan mempunyai peranan penting bagi kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-20 perkebunan kopi berada di bawah kontrol pemerintahan Belanda. Infrastruktur dikembangkan untuk mempermudah perdagangan kopi. Sebelum Perang Dunia II di Jawa Tengah terdapat jalur rel kereta api yang digunakan untuk mengangkut kopi, gula, merica, teh, dan tembakau ke Semarang untuk kemudian diangkut dengan kapal laut. Kopi yang ditanam di Jawa Tengah umumnya adalah kopi arabika, terutama di Kayumas, Blawan, Kalisat atau Jampit. Sementara kopi robusta di Jawa Timur, banyak diproduksi dari perkebunan seperti Ngrangkah Pawon (Kediri), Bangelan (Malang), Malangsari, Kaliselogiri (Banyuwangi). Di daerah pegunungan dari Jember hingga Banyuwangi terdapat banyak perkebunan kopi arabika dan robusta. Kopi robusta tumbuh di daerah rendah sedangkan kopi arabika tumbuh di daerah tinggi.

Pasca-Kemerdekaan, banyak perkebunan kopi yang ditinggalkan atau diambil alih oleh pemerintah yang baru. Saat ini, sekitar 92 persen produksi kopi berada di bawah petani-petani kecil atau koperasi.

Kebiasaan masyarakat minum kopi di Indonesia masih belumlah sebesar bangsa Barat, dan masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, serupa Singapura dan Filipina, yang merupakan negara tujuan utama ekspor kopi Indonesia saat ini.[8] Kisaran konsumsi kopi di negara ini umumnya antara 1-3 cangkir sehari.[8]

Jenis-jenis kopi di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Kopi Gayo[sunting | sunting sumber]

Artikel utama: Kopi gayo

Kopi gayo (bahasa InggrisGayo coffee) merupakan salah satu varietas kopi arabika yang ditanam di daerah Dataran tinggi GayoAceh TengahIndonesia.[9]

Kopi Luwak[sunting | sunting sumber]

Salah satu produk kopi luwak

Artikel utama: Kopi luwak

Kopi luwak adalah seduhan kopi menggunakan biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak/musang kelapa. Biji kopi ini diyakini memiliki rasa yang berbeda setelah dimakan dan melewati saluran pencernaan luwak. Kemasyhuran kopi ini di kawasan Asia Tenggara telah lama diketahui, namun baru menjadi terkenal luas di peminat kopi gourmet setelah publikasi pada tahun 1980-an. Biji kopi luwak adalah yang termahal di dunia, mencapai USD100 per 450 gram.

Kopi Jawa[sunting | sunting sumber]

Artikel utama: Kopi jawa

Kopi jawa (Java coffee) adalah kopi yang berasal dari Pulau Jawa. Kopi ini sangatlah terkenal sehingga nama Jawa menjadi nama identitas untuk kopi ini. Kopi jawa tidak memiliki bentuk yang sama dengan kopi asal Sumatra dan Sulawesi, cita rasa juga tidak terlalu kaya sebagaimana kopi dari Sumatra atau Sulawesi karena sebagian besar kopi jawa diproses secara basah (wet process). Meskipun begitu, sebagian kopi jawa mengeluarkan aroma tipis rempah sehingga membuatnya lebih baik dari jenis kopi lainnya. Kopi jawa memiliki keasaman yang rendah dikombinasikan dengan kondisi tanah, suhu udara, cuaca, serta kelembapan udara.

Kopi jawa yang paling terkenal adalah Jampit dan Blawan. Biji kopi Jawa yang tua (disebut old-brown) berbentuk besar dan rendah kadar asam.[10]

Kopi ini dengan rasa kuat, pekat, rasa kopi manis. Produksi kopi jawa arabika dipusatkan di tengah Pegunungan Ijen, di bagian ujung timur pulau Jawa, dengan ketinggian pegunungan 1.400 meter. Kopi ini dibudidayakan pertama kali oleh kolonial Belanda pada abad ke-18 pada perkebunan besar.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

·         Kopi

·         Arabika

·         Robusta

·         Liberika

·         Kopi Jawa

·         Kopi Sumatra

·         Hemileia vastatrix

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

1.       ^ a b Taufiqurohman 2018, hlm. 59.

2.       ^ Wira, Ni Nyoman (2018-01-20), "Crazy about Indonesian coffee? Here are the basics of java"The Jakarta Post

3.       ^ a b c d Taufiqurohman 2018, hlm. 8.

4.       ^ a b c d [Rusman] (2018-03-17), "Asal Mula Masuknya Kopi di Indonesia"sindonews.com Periksa nilai |author-link1= (bantuan);

5.       ^ Taufiqurohman 2018, hlm. 33.

6.       ^ a b c d Taufiqurohman 2018, hlm. 9.

7.       ^ Astawan 2004, hlm. 64.

8.       ^ a b Astawan 2004, hlm. 63.

9.       ^ Market Brief Kopi di Pasar Jerman (PDF), Januari, diakses tanggal 2018-12-26

10.   ^ "Perbandingan Kopi Jawa". 30 March 2013.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

·         Astawan, Made (2004). Solusi Sehat: Sehat Bersama Aneka Serat Pangan AlamiSoloTiga SerangkaiISBN 979-668-443-8.

·         Taufiqurohman, Muhammad (2018). Kopi: Aroma, Rasa, Cerita. Pusat Data dan Analisis Tempo Publishers. ISBN 978-602-6773-23-4.

 

 

Kopi merupakan salah satu komoditas di dunia yang dibudidayakan lebih dari 50 negara di dunia. Dua varietas pohon kopi yang dikenal secara umum yaitu kopi Robusta (coffea canephora) dan kopi Arabika (coffea arabica).

Sebelum becerita lebih jauh asal mula masuknya kopi di Indonesia, kita perlu tahu asal-usul kata “kopi”. Menurut Wiliam H Ukers dalam bukunya All About Coffe (1922) kata “kopi” mulai masuk ke dalam bahasa-bahasa Eropa sekitar tahun 1600-an. Kata tersebut diadaptasi dari bahasa Arab “qahwa”. Atau mungkin tidak langsung dari istilah Arab tetapi melalui istilah Turki “kahveh”.

Dalam catatan Jurnalbumi yang dipublish Cecep Risnandar, diperbaharui pada 2 Maret 2018 bahwa di Arab istilah “qahwa” tidak ditujukan untuk nama tanaman tetapi merujuk pada nama minuman. Ada beberapa catatan yang menyebut istilah tersebut awalnya merujuk pada salah satu jenis minuman dari anggur (wine).

Namun para ahli meyakini kata “qahwa” digunakan untuk menyebut minuman yang terbuat dari biji yang diseduh dengan air panas. Biji tersebut diketahui berasal dari buah yang dihasilkan tanaman kopi. Menurut Wiliam H Ukers, asal-usul kata “kopi” secara ilmiah mulai dibicarakan dalam Symposium on The Etymology of The Word Coffee pada tahun 1909. Dalam simposium ini secara umum kata “kopi” diyakini merujuk pada istilah dalam bahasa arab “qahwa”, yang mengandung arti “kuat”.

Ada juga pihak yang menyangkal istilah kopi diambil dari bahasa Arab. Menurut mereka istilah kopi berasal dari bahasa tempat tanaman kopi berasal yakni Abyssinia. Diadaptasi dari kata “kaffa” nama sebuah kota di daerah Shoa, di Selatan Barat Daya Abissynia.

Namun, anggapan ini terbantahkan karena tidak didukung bukti kuat. Bukti lain menunjukkan di kota tersebut buah kopi disebut dengan nama lain yakni “bun”. Dalam catatan-catatan Arab “bun” atau “bunn” digunakan untuk menyebut biji kopi bukan minuman.

Dari bahasa Arab istilah “qahwa” diadaptasi ke dalam bahasa lainnya seperti seperti bahasa Turki “kahve”, bahasa Belanda “koffie”, bahasa Perancis “café”, bahasa Italia “caffè”, bahasa Inggris “coffee”, bahasa Cina “kia-fey”, bahasa Jepang “kehi”, dan bahasa melayu “kawa”. Pada faktanya hampir semua istilah untuk kopi di berbagai bahasa memiliki kesamaan bunyi dengan istilah Arab.

Khusus untuk kasus Indonesia, besar kemungkinan kata “kopi” diadaptasi dari istilah Arab melalui bahasa Belanda “koffie”. Dugaan yang logis karena Belanda yang pertama kali membuka perkebunan kopi di Indonesia. Tapi tidak menutup kemungkinan kata tersebut diadaptasi langsung dari bahasa Arab atau Turki. Mengingat banyak pihak di Indonesia yang memiliki hubungan dengan bangsa Arab sebelum orang-orang Eropa datang.

Sejarah mencatat tanaman kopi berasal dari Abyssinia nama daerah di Afrika yang mencakup wilayah Etiopia dan Eritrea. Berbagai rujukan sejarah mengatakan kopi dipopulerkan sebagai minuman penyegar oleh bangsa Arab. Biji kopi menjadi komoditas komersil setelah dibawa oleh pedagang Arab ke Yaman.

Pada abad ke-11 bangsa Arab yang memiliki peradaban lebih maju dari Afrika, tidak hanya memasak biji kopi, tetapi juga direbus untuk diambil sarinya. Saat itu kopi menjadi minuman utama di negara-negara muslim. Kepopuleran kopi pun meningkat seiring penyebaran agama Islam hingga mencapai daerah Afrika Utara, Mediterania, dan India.

Kisah pengembaraan umat Muslim tidak terlepas dari kopi, kemanapun orang Muslim menyebarkan agamanya, kopi selalu dibawa. Sehingga pada abad ke-13 kopi sudah menyebar ke Afrika Utara, negara-negara Mediterania dan India. Pada abad ke-14 dan 15, budaya minum kopi sudah menyebar di Turki, Mesir, Syiria, Persia.

Sampai abad ke-16 seluruh produksi kopi masih dikuasai Arab. Namun, pada masa ini, belum ada budidaya tanaman kopi di luar daerah Arab karena bangsa Arab selalu mengekspor biji kopi yang infertil (tidak subur) dengan cara memasak dan mengeringkannya terlebih dahulu.



Hal ini menyebabkan budidaya tanaman kopi tidak memungkinkan. Barulah pada tahun 1600-an, seorang peziarah India berhasil membawa biji kopi fertil keluar dari Makkah dan menumbuhkannya di berbagai daerah di luar Arab.

Pada masa awal, bangsa Arab mengendalikan perdagangan kopi lewat Mocha, sebuah kota pelabuhan yang terletak di Yaman. Saat itu Mocha menjadi satu-satunya gerbang lalu-lintas perdagangan biji kopi. Demikian strategisnya pelabuhan tersebut dalam perdagangan kopi, sampai-sampai orang Eropa menyebut kopi dengan nama Mocha.

Memasuki abad ke-17 orang-orang Eropa mulai mengembangkan perkebunan kopi sendiri. Karena iklim Eropa tidak cocok untuk tanaman kopi, mereka membudidayakan tanaman tersebut di daerah jajahannya yang tersebar di berbagai penjuru bumi. Salah satunya di Pulau Jawa yang dikembangkan oleh bangsa Belanda. Untuk masa tertentu kopi dari Jawa sempat mendominasi pasar kopi dunia. Saat itu secangkir kopi lebih populer dengan sebutan “Cup of Java”, secara harfiah artinya “secangkir Jawa”.

Asal Mula Masuknya Kopi di Indonesia


Masuknya Kopi di Indonesia
Sejarah kopi di Indonesia tidak lepas dari masuknya Belanda di Indonesia. Pada tahun 1696, kala itu Belanda membawa kopi dari Malabar, India, ke Pulau Jawa. Mereka membudidayakan tanaman kopi itu di Kedawung, sebuah perkebunan yang terletak dekat Batavia. Namun, upaya ini gagal kerena tanaman tersebut rusak oleh bencana.

Upaya kedua dilakukan pada tahun 1699 dengan mendatangkan stek pohon kopi dari Malabar. Pada tahun 1706 sampel kopi yang dihasilkan dari tanaman di Jawa dikirim ke negeri Belanda untuk diteliti di Kebun Raya Amsterdam.

Hasilnya sukses besar, kopi yang dihasilkan memiliki kualitas yang sangat baik. Selanjutnya tanaman kopi ini dijadikan bibit bagi seluruh perkebunan yang dikembangkan di Indonesia. Belanda pun memperluas areal budidaya kopi ke Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Pada tahun 1878 terjadi tragedi yang memilukan. Hampir seluruh perkebunan kopi yang ada di Indonesia terutama di dataran rendah rusak terserang penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix (HV). Kala itu semua tanaman kopi yang ada di Indonesia merupakan jenis Arabika. Untuk menanggulanginya, Belanda mendatangkan spesies kopi liberika (Coffea Liberica) yang diperkirakan lebih tahan terhadap penyakit karat daun.

Sampai beberapa tahun lamanya, kopi liberika menggantikan kopi arabika di perkebunan dataran rendah. Di pasar Eropa kopi liberika saat itu dihargai sama dengan arabika. Namun, tanaman kopi liberika juga mengalami hal yang sama, rusak terserang karat daun.

Kemudian pada tahun 1907 Belanda mendatangkan spesies lain yakni kopi robusta (Coffea Canephora). Usaha kali ini berhasil, hingga saat ini perkebunan-perkebunan kopi robusta yang ada di dataran rendah bisa bertahan.

Pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945, seluruh perkebunan kopi Belanda yang ada di Indonesia dinasionalisasi. Sejak itu Belanda tidak lagi menjadi pemasok kopi dunia.

Sejak kemerdekaan hingga saat ini kopi menjadi sangat populer di Indonesia. Kopi Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga terbesar di dunia dari segi hasil produksi.

Adapun beberapa kopi jenis Arabica di Indonesia yang populer di antaranya kopi Gayo (Aceh), Mandaling (Sumut), Kintamani (Bali), Mangkuraja (Bengkulu),Jawa dan Kalosi (Toraja). Selain kopi Arabica tersebut, Indonesia juga memiliki ada 1 jenis kopi yang sangat spesifik dan tergolong mahal, yaitu kopi luwak.

Di samping rasa dan aromanya yang khas, kopi ini diyakini dapat menurunkan risiko terkena penyakit kanker, diabetes, batu empedu, penyakit jantung dan berbagai penyakit lainnya.

 

Sejarah Kopi Garut: dari mulai pahitnya masa kolonialisme, hingga kebangkitannya kini.

Untuk mempelajari Kopi Garut, kita harus membahas sejarah kopi Garut terlebih dahulu. Kopi Garut memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah kopi Indonesia sendiri. Mulai dari dibawanya tanaman kopi oleh orang-orang Belanda di zaman kolonial, bagaimana kopi priangan jadi sangat terkenal di Eropa namun tidak disukai oleh para pribumi, hingga kebangkitannya kembali saat ini. Yuk disimak!

Sejarah Kopi Garut di Era Kolonialisme Belanda

Sejarah Kopi Garut tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya kopi ke Indonesia, khususnya ke daerah Priangan. Awalnya, tanaman kopi dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda untuk dibudidayakan di Batavia sekitar tahun 1696. Namun upaya tersebut gagal. Upaya budidaya kopi berikutnya dilakukan di tanah priangan pada awal 1700-an. Baru pada upaya ini kopi yang ditanam memberi hasil yang memuaskan.

Satu abad berikutnya adalah masa pemerintah kolonial menjadikan daerah Priangan sebagai penghasil kopi terbesar dan terbaik di dunia. Ketika konsumsi kopi di dunia meningkat, pemerintah kolonial terus meningkatkan penanaman pohon kopi di Priangan, termasuk di Garut. Pada awal abad 19, tanah Pasundan menjadi produsen kopi yang menghasilkan separuh dari total produksi kopi di dunia. Gambar di bawah menunjukkan para pemetik kopi di Garut sekitar tahun 1900an.

Sejarah Kopi Garut: Petik Biji Kopi di Garut, sekitar tahun 1900. Garoet Koffiepluksters ca. 1900

Sejarah Kopi Garut: Petik Biji Kopi di Garut, sekitar tahun 1900. Garoet Koffiepluksters ca. 1900

Sayangnya, industri kopi ini terasa sangat pahit bagi penduduk pribumi. Pemerintah kolonial menerapkan sistem kerja paksa kopi, yang terkenal dengan sebutan Preanger Stelsel. Dalam sistem ini pemerintah melarang para petani untuk menanam tanaman lain selain kopi. Selain itu, pemerintah terus menaikkan setoran wajib. Pada saat bersamaan, pemerintah kolonial juga melarang penduduk mengambil biji kopi. Setiap harinya patroli keamanan dikerahkan untuk memeriksa rumah-rumah penduduk; mencari biji-biji kopi yang disembunyikan.

Guru Besar Emiritus Sosiologi Amstredam Institute, Belanda, Prof. Jan Breman, menceritakan sejarah kopi garut ini dalam buku yang berjudul Keuntungan Kolonial dan Kerja Paksa: Sistem Priangan dari tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870. “Produksi kopi Priangan menjadi bagian dari proses tanam paksa dengan perantara birokrat lokal, baik kepala desa, camat, maupun bupati.” kata Jan Breman ketika mengisahkan bagaimana Belanda memaksa rakyat sunda untuk menanam kopi.

Tanam paksa ini membuat rakyat priangan memberontak, dengan perlawanan tanpa kekerasan, yaitu dengan cara merusak tanaman kopi, sabotase, dan cara-cara lainnya. Hasilnya, banyak kebun kopi yang terbengkalai dan rusak. Produksi kopi pun menurun. Hal ini membuat pemerintah kolonial kemudian mengganti kopi dengan teh, dan memulai sistem Cultuurstelsel. Prof. Jan Breman sendiri menyatakan bahwa tanam paksa kopi melalui Preanger Stelsel adalah cikal bakal dari sistem Cultuurstelsel.

Sejarah kopi garut di masa kolonial lebih banyak diwarnai sejarah pahit. Namun produksi yang besar ini telah berasil membuat kopi dari tanah jawa ini menjadi sangat terkenal di luar negeri. Bahkan orang luar menyebut secangkir kopi sebagai “a cup of Java”. Bahasa pemrograman java pun terinspirasi dari kopi tanah jawa ini.

Sejarah Kopi Garut Kontemporer

Sejarah Kopi Garut di era modern tidak terlepas dari peran program PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) yang digalakan oleh Perum Perhutani KPH Garut. Digulirkan tahun 2002, Perhutani berupaya untuk mewujudkan warga sejahtera yang berbasiskan konservasi.

Perhutani ingin mengajak masyarakat sekitar hutan, agar bisa menikmati azas manfaat dari hutan, melalui bagi hasil dari produk ekonomi yang dihasilkannya, tanpa merusak maupun merambah ekologi sekitarnya. Tanaman kopi bisa ditanam di dalam area hutan-hutan Perhutani, dan masyarakat diharapkan berhenti merambah hutan untuk dijadikan kebun sementara. Hal ini disambut baik oleh masyarakat, serta Pemerintah Daerah Garut sendiri.

Dalam rentang waktu 2002 hingga 2011, lahan tanaman kopi di Kabupaten Garut telah berkembang hingga seluas 2.143 hektar yang dikelola oleh 53 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dengan tenaga kerja penggarap mencapai 3.050 orang. Dari luasan tanaman kopi tersebut yang sudah panen mencapai 1.369 hektar dengan tingkat produksi 0,30 kilogram per pohon. Dalam beberapa tahun terakhir, Dinas Kehutanan Garut sendiri memberikan bantuan bibit tanaman kopi kepada para kelompok tani binaan sekitar kawasan hutan sekurangnya 500.000 batang per tahun.

Kini, industri kopi Garut sudah menggeliat. Pihak-pihak swasta telah melirik kopi Garut sebagai industri yang menarik dan menjanjikan. Hal ini bisa dilihat dari terus meningkatnya luasan kopi Garut serta berat kopi yang dihasilkan. Menurut data yang dirilis Dinas Perkebunan Kabupaten Garut, areal tanaman kopi rakyat kini telah mencapai sekitar 3.796 hektare, dan menghasilkan lebih dari 1300 ton kopi beras (green bean).

Tidak hanya di hulu, industri hilir pun mulai berkembang. Banyak kedai-kedai kopi di Garut bermunculan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, para pengolah kopi pun kini mulai berkembang dengan munculnya banyak usaha roastery (penyangrai) dan seiring bertambahnya kemampuan petani untuk mengolah kopi pasca panen.

Sejarah Kopi Garut yang panjang, serta perkembangannya yang sangat pesat kini membuat Kopi Garut akan selalu memperkaya khazanah kopi Indonesia di masa yang akan datang.

Jual Kopi Garut (Klik Di Sini)

Jual Kopi Garut - Klik di gambar ini - Jelajah Garut Houseblend atau Garutan Single Origin

Jual Kopi Garut – Klik di gambar ini – Jelajah Garut Houseblend atau Garutan Single Origin

Beberapa pelaku industri Kopi Garut

Kedai-kedai Kopi Garut

Roastery

Petani Kopi

 

tunggu update artikel-artikel kopi Garut lainnya yah 🙂

Sumber:

http://www.neraca.co.id/article/3037/pengelolaan-hutan-di-jabar-harus-ditingkatkan

http://beritagarut.blogspot.co.id/2010/11/perhutani-garut-wujudkan-warga.html

https://philocoffeeproject.wordpress.com/2014/02/04/kebangkitan-kembali-kopi-priangan-bagian-1/

http://historia.id/buku/rezim-kopi-di-priangan

 

Liputan6.com, Garut - Senyum semringah tampak dari wajah Ai, saat pengatur acara memanggilnya ke atas panggung dalam acara panen raya kopi preanger, di kampung Pelag, Desa Sukarilah, Sukaresmi, Garut, Jawa Barat, Rabu, 16 Mei 2018, siang. 

Siswi SMA juara 2 fisika tingkat Jawa Barat itu, didaulat menjadi mojang duta kopi arabika varietas baru jenis Java Preanger (Jawa Priangan), di kampung yang selama ini dikenal sebagai daerah buta aksara itu.

Mengenai kopi varietas baru ini, ketua kelompok, Kuswana menjelaskan bahwa kopi ini merupakan pengembangan dari kopi jenis java preanger.

"Ini adalah kopi arabika pertama Belanda, yang masih ada hingga kini," ujar Kuswana, saat panen raya kopi java preanger, di Kampung Pelag, Sukaresmi, Garut, Rabu (16/5/2018).

Ia menyatakan, kopi arabika jenis preanger ini diklaim sebagai kopi tertua yang masih bertahan, sejak pertama kali dibawa Belanda 1662 silam. Namun, minimnya inovasi, hingga akhirnya kopi tersebut lambat dikembangkan.

"Kami tahunya banyak yang menanyakan kopi preanger asal Pelag ini, rasanya spesial," kata dia.

BACA JUGA

·         Garut Siaga Satu, TNI-Polri Sebar Intel ke Tiap Desa

Minimnya perhatian dan sulitnya pendanaan, diduga menjadi hambatan terbesar perkembangan kopi preanger Garut itu. Hingga akhirnya mulai 2014 lalu, Indonesia Power (IP), selaku perusahaan energi listrik negara, menurunkan tim untuk memberikan bantuan bagi mereka.

"Saat ini pun kami belum punya nama varietasnya apa, saya harap sesuai nama kampung kami saja," Kuswana mengharapkan.

Kuswana menyatakan, sejak pertama kali dibawa menir Belanda, empat abad silam, jenis kopi java preanger ini, seolah berjodoh dengan tanah Garut, yang berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Biji kopi merah ranum yang dihasilkan tampak subur, biji kopi terlihat lebat pada setiap dahan batang pohonnya, dan rasa kulitnya cukup manis. "Hari ini adalah panen pertama dari tanam pertama 2014 lalu," kata dia.

Kopi Garut Merupakan Peninggakan Kolonial Belanda.

GARUT, FOKUSJABAR.com Secara umum wilayah Kabupaten Garut Jawa Barat penghasil Kopi Garut Arabica terbanyak dari perkebunan kopi di Kecamatan Pakenjeng dengan luas mencapai 483 hektar. Sejalan dengan sejarah masuknya kopi ke Garut di tahun 1889, dimana

·         BERITA PURWASUKA

 

·         12 Ekim 2015 Pazartesi 17:27

 

·         226

 

·         Salim ALTINORDU

Kopi Garut Merupakan Peninggakan Kolonial Belanda.

·          

·          

·          

GARUT, FOKUSJABAR.com: Secara umum wilayah Kabupaten Garut Jawa Barat penghasil Kopi Garut Arabica terbanyak dari perkebunan kopi di Kecamatan Pakenjeng dengan luas mencapai 483 hektar. Sejalan dengan sejarah masuknya kopi ke Garut di tahun 1889, dimana lokasi yang ditanam adalah di daerah gunung Kasang yang berlokasi antara Kecamatan Pakenjeng dan Cikajang, yang saat itu ditanami kopi seluas 353 hektare. [caption id="attachment_177239" align="aligncenter" width="500"] Kopi Garut yang khas (foto: Tasdik)[/caption] Kabid Pembinaan Usaha pada Dinas Perkebunan Pemerintah Kabupaten Garut, Sofyan Hamdian menyatakan bahwa jika melihat sejarah, berkembangnya kopi di Garut khususnya pada program tanam paksa oleh kolonial Belanda di tahun 1870. "Di Garut lokasinya di gunung Kasang, hasil kopi Garut, saat itu diketahui masuk nominasi pilihan pemerintah belanda saat ini dan paling bagus, " ujarnya Senin (12/10/2015) keoada wartawan. Di Garut sendiri, terdapat tiga jenis kopi dari empat yang ada, yaitu arabica, robusta, dan liberika atau yang saat ini dikenal dengan nama kopi boehoen. Untuk kopi jenis lainnya, yaitu exelsa diketahui tidak berada di Garut. " Kualitas bagus yang dihasilkan oleh Garut pada jenis arabica, karena posisinya yang memang toleran pada ketinggian diatas 800 meter diatas permukaan laut atau di dataran tinggi, " ungkap Sofyan. Berdasarkan data milik dinas perkebunan, kata Sofyan, kopi robusta di Garut tersebar di 35 kecamatan dengan lahan yang ditempati 845 hektare lahan dan menghasilan 526 ton per tahun. Dari luas tersebut, kopi Robusta Garut menghasilan bahan mentah 2.374 ton dan hasil olahan 468 ton, dengan rata-rata produksi 0,89 ton, yang dimiliki 2.527 orang didalamnya 3 kelompok tani dan tenaga kerja yang terlibat 8.140 orang. " Namun dari Garut ini tetap lebih banyak menjual beras kopi dibanding, dan sedikit sekali yang diolah untuk dinikmati masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakatnya yang lebih banyak peminum kopi dibanding penikmat, sehingga lebih memilih kopi instan, " ucapnya. (Tasdik/DEN)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 Daerah Penghasil Kopi Arabika di Garut

2 YEARS AGO BY RURY DERMAWAN Verified Confirm

·         111SHARES

·          

·          

·          

Featured Image

Coffee via http://pexels.com

Kopi arabika di Indonesia tersebar hampir di setiap pulau besar. Sudah banyak berbagai macam kopi ikut serta dalam pertandingan atau pameran kopi di nusantara maupun dunia. Beragam karakter rasa pada kopi banyak yang bilang paling semarak.

Tidak lain halnya dengan kopi arabika di Garut. Diyakini di suatu daerah tertentu di Garut yang ditanami kopi semenjak penanaman kopi di Pondok Kopi Jakarta Timur gagal tumbuh. Mencoba ditanam di daerah Garut dan akhirnya berhasil tumbuh, maka dengan cepat melakukan penanaman besar-besaran guna memenuhi permintaan besar dunia pada saat itu.

Untuk informasi pembaca, di sini saya bukanlah ahli penilai kopi yang bersertifikasi dan murni sebagai konsumen yang sedikit banyak dapat belajar dari barista maupun roastery serta sering sharing dengan teman-teman penikmat kopi. Artikel ini hanya mengambil beberapa saja sebagai informasi awal kepada pembaca. Dengan tujuan meningkatkan awareness terhadap kopi Garut yang memiliki cita rasa unik dan asik.

Nah, mau tahu dimana saja 5 daerah penghasil kopi arabika di Garut? Berikut daerahnya!

1. Kopi Arabika Cikuray

Kopi Arabika Cikuray

Kopi Arabika Cikuray via http://jelajahgarut.com

Apabila kamu suka hunting kopi untuk mencari beragam keunikan cita rasa pada kopi. Yuk, coba kopi arabika Cikuray yang aduhai. Oh, ya untuk informasi kalau saya lebih senang teknik penyeduhan pada kopi adalah tubruk, dibandingkan dengan teknik-teknik yang lainnya. Serta saya hanya menuliskan opini pengalaman saya dalam minum kopi yang paling menonjol saja ya.

ADVERTISEMENT

Nah untuk kopi arabika Cikuray, saya mendapatkan pengalaman yang unik. Terutama aroma (bau pada kopi yang baru diseduh) kopi yang sangat kuat dan kayu banget. Sedangkan untuk body (tekstur) bisa dirasakan bold. Hampir semua kopi arabika Garut, saya mendapatkan pengalaman tingak acidity-nya medium to high walaupun dengan beragam teknik pengolahan pada pasca panen hingga disajikan kedalam cangkir ya tetap seperti itu.

2. Kopi Arabika Papandayan

Kopi Arabika Papandayan

Kopi Arabika Papandayan via https://instagram.com

Cobalah kopi arabika Garut yang tumbuh di sekitaran gunung Papandayan. Kamu sudah tahu dong obyek wisata Taman Wisata Alam Gunung Papandayan ini? Selain sebagai tempat tujuan untuk melihat sunrisetracking hingga camping, ternyata disinilah tempat tanaman kopi dibudidayakan.

Kopi arabika Papandayan tumbuh baik di sekitaran gunung Papandayan. Bahkan ketika kamu menuju kawasan obyek wisata gunung Papandayan, kamu dapat dengan mudah menemui perkebunan kopi di sepanjang jalan. Lalu gimana ya karakteristik pada kopi Papandayan tersebut?

ADVERTISEMENT

Jujur saja, saya memang sering mencoba kopi dari berbagai daerah. Namun, jangan percaya 100% sama penilaian yang saya berikan karena ini pendapat pribadi (soalnya kan lidah kita berbeda ya guyshehe).

Pertama-tama saya lebih suka tubruk pada penyeduhannya. Saat mencoba mencium bubuk kopinya, serasa fragrance (bau kopi saat masih bubuk) kopi Papandayan merangsang banget. Saya cukup puas menikmati seduhan kopi arabika Papandayan yang disajikan oleh barista-barista kedai kopi di Garut. Keseringan saya rasakan acidity pada kopi Garut Papandayan lebih dominan. Aromanya segar banget dan seksi.

Tentu temennya kopi arabika Papandayan adalah pisang goreng, wah juara banget!

ADVERTISEMENT

Ads by AdAsia

You can close Ad in 6 s

3. Kopi Arabika Talaga Bodas

Kopi Arabika Talaga Bodas

Kopi Arabika Talaga Bodas via https://thejourneys.xyz

Saya suka banget dengan obyek wisata Talaga Bodas setelah gunung Papandayan tentunya. Obyek wisata Taman Wisata Alam Talaga Bodas serupa dengan obyek wisata Kawah Putih di Ciwidey Bandung Selatan. Selain obyek wisata kawah, ternyata Talaga Bodas juga mempunyai tanaman kopi arabika Talaga Bodas.

Selama saya meminum kopi dari 5 daerah penghasil kopi arabika di Garut, sampai saat ini saya belum menemukan apa yang paling menonjol dari kopi Talaga Bodas. Seperti kopi arabika Garut lainnya mulai dari fragrance dan aroma hampir sama. Namun, kopi arabika Talaga Bodas jika di-blend dengan kopi arabika yang strong seperti kopi arabika Gayo maupun Toraja, entah mengapa cocok banget.

Tetapi berbicara kopi arabika Garut yang di-blend dengan kopi arabika dari daerah Gayo, Toraja, Wamena hingga Flores Bajawa memang cocok banget. Siap-siap melek terus dan asik stand-by di depan laptop seharian. Kamu harus coba kopi arabika Garut yang di-blend dengan kopi arabika dari daerah lainnya.

4. Kopi Arabika Samarang

Kopi Arabika Samarang

Kopi Arabika Samarang via https://instagram.com

Berbagi ulasan mengenai kopi arabika Samarang Garut Jawa Barat. Saya sebenarnya tidak terlalu spesial dengan kopi arabika Samarang. Bisa dibilang masih kalah prioritas dengan kopi arabika yang sebelumnya. Tapi, pengalaman menikmati kopi arabika Samarang cukup bahagia.

Tingkat acidity ternyata tidak terlalu dominan dibandingkan dengan kopi arabika Papandayan, kopi arabika Cikuray, maupun kopi arabika Talaga Bodas. Bisa dibilang lebih ke arah bright (rasa yang ringan, kering dan tajam) but not sharp. Cocok banget sih kalau untuk kamu yang ingin mencoba kopi arabika Garut untuk pertama kali supaya tidak kaget dengan uniknya kopi arabika Garut.

5. Kopi Arabika Pangauban

Kopi Arabika Pangauban

Kopi Arabika Pangauban via https://instagram.com

Nah, dalam artikel 5 daerah penghasil kopi arabika di Garut ini, pengalaman saya untuk meminum kopi arabika Garut khususnya kopi arabika Pangauban berada di poin terakhir. Kenapa? Karena masih berdekatan dengan kopi arabika Papandayan. Tetapi, ada ciri khasnya yang saya temukan yaitu body (kekentalan), terasa dominan. Dari segi acidity tidak jauh berbeda dengan kopi arabika Papandayan yang sangat dominan maupun dari daerah penghasil kopi arabika di garut lainnya.

Untuk diketahui oleh pembaca, Garut sebagian besar wilayahnya terdapat gunung berapi yang masih aktif seperti gunung Papandayan, gunung Guntur, maupun gunung Talaga Bodas (berdekatan dengan gunung Galunggung). Sehingga sedikit banyak pasti berpengaruh kepada tanaman kopi yang didominasi dengan tingkat keasaman yang sering ditemukan. Selain itu kondisi topografi wilayah Garut yang berada di ketinggian dan masih memiliki cadangan hutan yang melimpah membuat perkebunan kopi arabika Garut tumbuh dengan baik.

Jadi, jikalau kamu ke Garut sisakanlah waktunya untuk mencoba kopi arabika Garut ya, baik itu ke kedai-kedai kopi yang ada di Garut maupun di sekitar tempat wisata seperti Taman Wisata Alam Gunung Papandayan. Jika kamu menemukan kopi arabika Garut di luar Garut jangan kaget dengan cita rasanya, karena tanaman kopi yang tumbuh akan sedikit banyak akan mengikuti karakteristik media tanam di sekitarnya juga.

Ayo jelajah Garut untuk mencari pengalaman mencoba kopi arabika Garut!

ADVERTISEMENT

ARTIKEL BERMANFAAT DAN MENGHIBUR LAINNYA

·         14 Sisi Lain Keelokan Kabupaten Garut yang Menanti Untuk Kamu Kunjungi Saat Liburan Nanti

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

 

Komentar